8.5.25

"What is the catch?"

 : Tom Waits


"What is the catch?" - You asked

"I've ran out of twenty two tricks, all the beers and none the ice. When a Queen is missing, no Kings shall be crowned." - Me


Now, anybody could win this game you said but I'm gonna keep the fake trophy anyway (of which already brimming with tears of our collective rues and rages from bleak yesteryears) and for the moment let's try keep growing that woefully witherelant on the sill of sixhundred and twentyeight window of that one ugly brown unnamed motel by the west rainbow highway with a busty lady in maroon at the reception that might offer you happy slot shall you want one (for a 50 she's more than fine). I mean nevermind the noise, all I'm saying is let's wait until the root of that pitiful plant could finally taken agrip (I'm not hopeful either) inside that cracked pot full of dirt – only then you might want to ask me again; what the fuck is the catch? But hey, be warned for I would still have no tricks left up my sleeve. You can keep the cards and give me all the Aces 'cause nobody is winning anything since forever and you know what, I don't really care anymore. Truth be told, I've exchanged the last damn trick for a copy of banal Bukowski's poetry book brought by one lousy clown from that creepy carnival life circus of the past Lent, truly. Also, love is never a dog from hell but it's actually demonic white beast of yesterday's morfin and I'm now at the last packet, fuck-!


0 komen

26.3.25

Percakapan Pagi (xii) - (revisited)

Sempit-! Semuanya sempit-! Hidup kalau mau diludah habis basah, pun dinding dinding ini peduli apa? Himpit-! Lagi terus himpit-! Biar belikat bertemu belikat. Biar rusuk bersilang rusuk. Biar bercerai pundak. Biar pecah kepala. Biar hancur daging. Biar berkecai semua-!

Dan di satu sudut berlendir itu, orang orang dalam kebingungan yang menjijikkan akan berpusu pusu menengadah tanpa arah, menolak, menghinjak, berteriak; "Tuhan-! Tuhan-!". Diam hanya sebentar, katanya tuhan sedang keluar. Lalu di hujung jeda terdengar satu pernyataan gumam dalam cemas;

"Eh, kalau darah memang merah, cuma tinggal saja hanyirnya... Allah-!"


K. Damn | 26032025

0 komen

Puisi Pun Pupus (revisited)

:

Pada Mengapa kami tertanya; ketika kami mengabaikan Kata dan melupakan Makna, benarkah kami turut membuat Puisi menangis?

(Kadangkala Puisi pun penat menjadi puisi - yang selalu tak dimengerti. Sesekali ia mau bebas menjelma Kata - yang tak dibebankan Makna)

Pada akhir baris Tulis itu, yang ada hanyalah sebuah perenggan pendek bisu dan setelahnya, sebentuk Titik yang menikam tajam segala ragu.

Demikianlah, Puisi pun pupus.

0 komen

Seorang Tua Di Tepi Sebuah Toko Serbaneka (revisited)


Dingin malam yang menggetar ruh
setelah senja digenangi hujan
membaurkan lendir longkang yang hitam dan hamis
pada tepi sebuah toko serbaneka
di selapikan lusuhan kotak lama
ada neon bukan bulan
dan bintang gugur di matanya.

seorang tua itu mengerekot tidur
menyulam mimpi antara lena dan jaga
mimpi keruh wajah anaknya
(yang telah terpaling dari doa)
terkadang tinggal hanya nama tanpa figura
seiring hayat meluputkan ingat
dalam jijik dan nyanyuk kemelaratan usia.

Terdengar ratib rindu yang sama
di tiap terbit airmata tuanya
berkali dipinta agar dipasrahkan perbuangan itu
(oleh ketidakwajaran dan kurang ajar seorang anak)
demikianlah kukira tuhan tak mengabaikan 
sungguh telah ada parut bekas luka syurga
di telapak kakinya yang renta.

0 komen

23.3.25

Pantun Untuk Kanda (i)


budak budak menjala ikan

tepian sungai atas perahu;

bukan rupa yang dinda gilakan

cukup wajahmu renung tak jemu.


sulur jati alang terendak

ambil buluh dibuat pagar;

bukan harta yang dinda hendak

cukup susah sama disandar.


redup rendah si matahari,

senja datang membawa gelap;

bukan mewah yang dinda cari

cukup makan saling bersuap.


mawar merah nantikan kembang

harum melati di laman sendiri;

bukan dikisah janji berkarang

cukup menangis ada yang peduli.


hujan menderas jauh di hulu

air tempayan dibuang jangan;

bukan emas yang dinda mahu

cukup dimanja dalam pelukan.


bukan karang sebarang karang

karang bunga hiasan diraja;

bukan sayang sebarang sayang

sayang dinda batasan syurga.


Ewahhh-!

0 komen

13.3.25

Etcetera (i & ii) - Revisited

Etcetera (i) : Chandramukhi

Kata Chandramukhi; dia tak sekadar mencintai Devdas. Dia bahkan tak sekelumit ragu memuja lelaki malang itu. Sebegitu tulus Chandramukhi menekuni kata Nabi. Dalam baring menyantun kasih, ada tunduk menyembah budi. Alangkah, tinggal saja pelacur tak mungkin bersuami..


Etcetera (ii) : Paro

Kata Devdas; Paro menghidupinya, di setiap hangat helaan nafas. Pada Paro di suatu yang kelak, setelah jantung berhenti berdetak, gelaplah nyala seluruh cahaya. Akan kelam matanya, akan padam apinya - Vilakku suci buat kekasih taklagi terbakar abadi..

0 komen

Percakapan Pagi - Pengantin Malam (xv)

Barangkali kerana senjanya yang selalu lelah di dalam jingga - 

di langitnya yang sering suram dan sunyi bintang taklagi mengandaikan dewa dewa tinggal samar segugusan cahaya dan bengkok bulan yang purba

Bahkan pungguk pun membongkok bisu -

sesekali melolong hiba bukan lagi bernada angker malah ia terdengar sedang berduka namun siapalah yang mau bertanya?

Mungkin juga desah angin dini yang mengirim kantuk tapi terkadang memuput resah antara jaga - 

cukup sepotongan doa tidur yang pendek dan sederhana menyisipkan manis kedalam mimpi dan lenamu sesekali tetap menjelma ngeri tapi kau taklagi peduli bahkan telah terbiasa

Mungkin juga kerana butir embunnya yang dingin dan takzim itu atau gerimis yang menderap jatuh di sebentar subuh -

serupa tetes tetes tangis yang pantas merebakkan hiba dari lapukan ingatan lama

...

Nah, kukira di segala apa jua citra telah tak ada lagi keraguan, tinggal bertahan dan saling percaya -

bahwa semuanya telah memang menyimpan sengsara

maka dengan bersaksikan kebenaran itu, kupilih Malam sebagai pengantinku-!


K. Damn

0 komen

1.10.24

Jika Aku Begini, Tetapkah Engkau Begitu?

Jika pekat malam tanpa kerdip bintang itu adalah aku,
masih sudikah kau menjadi kelip kunang ku yang tulus cahayanya?

Jika gersang tanah di telapak kakimu itu adalah aku, 
masih inginkah kau menumbuhkan tunas tunas kasihmu di halamannya?

Jika hitam keruh air di muara itu adalah aku, 
masih mahukah kau melayarkan perahu cintamu di ombak dadanya?

Jika matiku di hujung dunia terbenamnya lahad itu,
masih tegakah kau mengharumi nisanku dengan air yang basah mawarnya?

Jika aku masih aku dan telah sebegini,
tetapkah engkau masih engkau dan kekal sebegitu?

Cheras | 27052017


0 komen

Menjawab Goenawan Membaca Don Quixote

Demikian katanya Goenawan;

"Tidurlah, Sancho, dengan dengkur yang sederhana. Kosmos telah melupakanmu. Tidurlah dengan mimpi yang tanpa arah, dengan lelap dalam sihir orang-orang yang tak berdaya. Tidurlah dengan ambisi yang mati. Kesabaran adalah mawar yang merambat, lumut yang tak takluk karena salju.Tidurlah untuk malam yang tak terulang lagi."

...

Ketidakberdayaan menghidupi
Seakan mati tetapi mimpi
Melepaskan ketidakpastian demi pengakuran akan hidup;
sebagaimana pun lelah, tetap 'kan menemu sudah
Tinggal saja bilanya entah
Maka Sancho, sebentar ini, tidurlah.

Cheras | June 2024

0 komen

30.9.24

Sublunary (ii)

Cabaran paling mengasak seorang gadis rider; bilamana jentera tanggal berderai, jiwa si gadis turut berkecai dan demikianlah dalam terusan membilang detik meniti hari menjelma bulan yang beredar menjadi tahun tahun gerhana yang takterhitungkan sampai kontang semangat, serupa takbernyawa, sebukan manusia, senafas ia sekayuh, menyabung nasib sehingga punah siuman, lalu di hujung pengakhir epilog seperti sebabak mimpi yang telah tertilik, gadis rider itu pun tersadai melarat di tepian jalanan - takterpungut, takterhiraukan, hitam terbakar, menyebati seperti hangit asap jentera yang dulu padanya serupa candu namun kini sekadar debu aspal yang jelik lagi menyebalkan.

Cheras | 01042023

0 komen

Dum Spiro Cano (ii)

: Untuk JM

Ya Tuhan, kecemasan apakah yang telah kau hamburkan kini?
Kecintaan yang tiba tiba; taktertepiskan, lagi takbertepi,
Seperti Icarus yang rela mampus dihangus berahi mentari,
Infatuasi ini oh peritnya meremukredamkan hati,
Wahai, betapa walang hidup andai dia tak kupunyai..

Tapi aku tahu, seorang lelaki baik seperti ini takmungkin bisa dimiliki,
Maka cukuplah saja aku mabuk dalam semar rindu yang mencelakakan diri,
Serupa Sysipus yang selamanya menolak realiti,
Biar hanyut kuratibkan namanya sampai mati,
Demi dia, sungguh aku taklagi peduli..

Cheras | 20092024 

0 komen

27.9.24

Dum Spiro Cano (i)

: For JM

"When do things hurt us?
Simply when we love them, utterly passionately – death is merciful."

And you're now definitely killing me, my darling.
Still I, unashamedly wish to be your martyr.

Cheras | 27092024

0 komen

5.3.18

Boi (i)

Ya, hidup memang sidang judi, boi
maka terusanlah yakin beranikan bertaruh
sebab adakala engkau pasti menang
(sesering engkau jatuh kalah).

Demikianlah betapa rawak daun dikocak, boi
mumpung percaya di kebetulan kebetulan apapun 
yang jelas antara nasib dan free will
engkau tetap 'kan fucked up di tengah tengah.


1 komen

29.8.17

Sekhak - Goenawan Mohamad, 2010

Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu. 

Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu 

sebelum saatnya. 

Dan seekor kuda rubuh. 

Dua bidak lari ke sudut. 

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.” 

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap. 

Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.” 

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!” 

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti. 

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”. 

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu. 

2010


0 komen

19.4.17

Menjawab Goenawan Membaca Miguel

Demikian bicaramu;

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman yang takpunya tanda
kecuali
warna sepia.*

...

Namun aku taklagi sepia
tubuh hitam lumpur yang sisa
akan masihkah berapi inginmu?
akan masihkah, kekasihku?

*Goenawan membaca Miguel, 1996

0 komen

6.3.17

Mampus Kau-!

Diketis ketis puntung surya dipikir pikir masuk kedalam tin habuk namun rupanya tidak malahan terbang pula ditiup angin malam lalu merebak kebawah katil; di situ sisa sisa kerumitan dan hapak takharum cengkih (bukan kanker tapi kesunyian) berkelahi memilih siapa lebih sengsara; gadis di atas katil itu atau mereka. Tapi radio di atas meja kayu di sudut kepala katil itu keras menempelak dengan lagu lagu sehabis sayu (konon ia paling derita), dengan butir butir frasa separa dangkal bernada cengeng mendodoi dongeng bahwa cinta tanpa waras itulah puja hidup yang terutama (padahal sekadar populis terbawah remeh). Gadis itu tiba tiba menangis, airmatanya jadi habuk. Semua terdiam (melulu malu dan jatuh kesal). Terus kangker di dalam hati meletus tawanya, kepada sunyi ia berkata; "mampus kau!"


0 komen

1.2.17

Percakapan Pagi (xiv)

:

Seberapa lama kita mau mengaduh tentang hidup yang berantakan sia sia?
Sampai renta namun kita takmampu -
Tinggal kita jadi akur dan melupa dan lupa dan..


BMC | 10:18AM | 300117

0 komen

25.9.16

Reinkarnasi Wayang Acak

: WY

Semoga di lain inkarnasi, aku akan menjadi engkau, engkau akan menjadi aku dan kita akhirnya akan cukup untuk sama sama mengakui serta saling mengerti bahawa hidup memang taklebih sekadar wayang acak.

Kita bahkan tinggal tertunduk pasrah akan keunggulan (kekejaman) magnum opus manusiawi yang melayari inkarnasi itu –ketika kita sebenarnya adalah (hanyalah) topeng topeng yang menari dialun serunai dalam C#, dan Yudhistira, aku (engkau) akan menanti untuk engkau (aku) menyanyi sekali lagi dalam semar dan mabuk melaung laungkan nama kita;

"Drupadi-! Drupadi-! Di manakah, kembalilah, Dyah Ayu Drupadi, betapalah aku sudah parah-!"

Demikianlah topeng topeng terusan berlamentasi dalam haru lagu bernada nestapa. Namun dari balik kelir reinkarnasi ini, kesunyian turut terdengar satu nota lebih tinggi;

"Aduh sayang, Sang Ludera, siapalah yang mendalangi segala rumit dan sakit ini kalau bukan kenaifan kenaifan kita sendiri?"

Sampai tiba satu ketika tingkah irama akan berhenti berbunyi, tidak ada siapa yang akan menabuh geduk gendang itu lagi.

Sepicing bunyi kesi terdengar di hujung dinihari menandakan tamat reinkarnasi dan di dalam gelap panggung, topeng topeng pun menangis lagi.
 

posted from Bloggeroid

0 komen

22.9.16

Perihal Puisi (iii)

:

You are a bouquet of prose I dare not utter; a brilliant metaphor I dare not understand; a beautiful phrase I dare not read; for I am worried that letters would escape me; words would scurry away; while meanings would definitely mocking at me mercilessly it'll make me tremble with great shame and self pity; and the most humiliating is however much I try I still couldn't come out not even with one sensible reason for why should a broken piece of withered mudslate full of gibberish, pathetically deprived of depth and eloquence such is me, be allowed to even imagine about you, you magnificent poem ever written.

0 komen

6.9.16

Sublunary (i)

Lapar bikin marah. Marah bikin sajak. Sajak bikin revolusi. Revolusi bikin chaos. Chaos bikin sakit. Sakit bikin mati. Maka, carpe diem.


0 komen