Showing posts with label kenangan. Show all posts
Showing posts with label kenangan. Show all posts
1.8.11
Emak : Semalam dan Hari Ini
Semalam denganmu emak
tiap suapmu aku menari atas pelangi
hari ini tanpamu emak
nasi kutelan serupa pasir, bagai berduri
semalam denganmu emak
lembut tuturmu, jujur bersulam nasihat
hari ini tanpamu emak
aku jadi ragu, segala suara berbisik jahat
semalam denganmu emak
tidur ku hangat dalam pelukan
hari ini tanpamu emak
malam ku kelam tiada rembulan
semalam denganmu emak
rambutku kau sikat, kau jalin erat
hari ini tanpamu emak
rambut ku kerat, hitam warnanya telahpun karat
semalam denganmu emak
aku ketawa lalu kau senyum bahgia
hari ini tanpamu emak
aku menangis, tiada siapa mendengarnya
semalam denganmu emak
aku anak kecil lena dalam dukungan
hari ini tanpamu emak
aku gadis sesat tak berpunca tiada haluan...
RIP Jamilah binti Khalid.
puisi serupa :
#pfbs,
emak,
kenangan,
semalam dan hari ini
4.7.11
kuasa kenangan
kenangan meninggalkan jejak,
bak langit yang terpahat awan,
iri angin mencipta jarak,
lalu cinta pun gugur bagai hujan...
kenangan menciptakan sepi,
bak benih tertanam di lubuk hati,
saat kau hilang ia pun datang,
terus menumbuh dan menjerut mati.
*bosan lara nyanyi.
0
komen
Share to XShare to Facebook
bak langit yang terpahat awan,
iri angin mencipta jarak,
lalu cinta pun gugur bagai hujan...
kenangan menciptakan sepi,
bak benih tertanam di lubuk hati,
saat kau hilang ia pun datang,
terus menumbuh dan menjerut mati.
*bosan lara nyanyi.
puisi serupa :
kenangan,
lara nyanyi
10.6.11
si peniup seruling dan lagu sepinya yang abadi
pada tanah yang mengharum manis
benih itu menunggu aku memugarnya
katakan pada awan yang mengapas
turunkan lah sisa sisa hidup
agar benih itu menghirup nafas
tumbuh menjulang menjadi dia
akulah si peniup seruling daun itu
duduk di buai di dahan ku cinta
dan musim pun tak segan berganti
mentari masih disitu
bulan ku kenal kekal setia
tapi dia bukan mereka
***
ini dibuat nyanyi. nyanyi spontan. di rembang jumaat. jadilah ini. kebenda tah. lara baca balik pun jadi blur.
0
komen
Share to XShare to Facebook
benih itu menunggu aku memugarnya
katakan pada awan yang mengapas
turunkan lah sisa sisa hidup
agar benih itu menghirup nafas
tumbuh menjulang menjadi dia
akulah si peniup seruling daun itu
duduk di buai di dahan ku cinta
dan musim pun tak segan berganti
mentari masih disitu
bulan ku kenal kekal setia
tapi dia bukan mereka
lalang lalang menakluk bumi
dia juga yang kecundangan
bila mati tak lagi memberi erti
yang tinggal kini cuma kenangan
seruling tak henti mengalun tangis
aku pun enggan meniupnya lagi
ku tanam rapat di tanah berkarat
bersama lagu menyisip lahad
jauh
jauh
jauh
jadilah dia hanya setunggul benih yang tak menumbuh lagi
dan aku si peniup seruling terus meniup sepi yang abadi
***
ini dibuat nyanyi. nyanyi spontan. di rembang jumaat. jadilah ini. kebenda tah. lara baca balik pun jadi blur.
puisi serupa :
bila dahan sudah patah,
kenangan,
si peniup seruling,
tentang cinta
14.11.10
bila dahan sudah patah
Percayakah kau apa yang bakal ku katakan ini?
Pintaku kau dengar dahulu
Kerna momen momen luka ini
Mustahil tepat kau pragnoskan
Dengan skeptis biasa biasa
Dengan ucap kata kata
"Ahh mana mungkin begitu"
Hey!
Buka mata hati fikirmu
Jangan tolong jadi dungu
Egomu sikit pun tak membantu
Apa kau ingat kau jantan terbilang?
Bagiku kini kau akan ku buang
Ya dengarkan lagi
Buat kesekian kali
Aku akan pergi
Jauh jauh kenangan kian pudar
Manis katamu kini telah hambar
Ah
Dalam duduk sendiri
Membilang tasbih resah
Sesudah bayang hilang teduh
Kerna dahan sudah patah
Tapi ku yakin luka akan sembuh
Akhirnya kini aku pasrah
5
komen
Share to XShare to Facebook
Pintaku kau dengar dahulu
Kerna momen momen luka ini
Mustahil tepat kau pragnoskan
Dengan skeptis biasa biasa
Dengan ucap kata kata
"Ahh mana mungkin begitu"
Hey!
Buka mata hati fikirmu
Jangan tolong jadi dungu
Egomu sikit pun tak membantu
Apa kau ingat kau jantan terbilang?
Bagiku kini kau akan ku buang
Ya dengarkan lagi
Buat kesekian kali
Aku akan pergi
Jauh jauh kenangan kian pudar
Manis katamu kini telah hambar
Ah
Dalam duduk sendiri
Membilang tasbih resah
Sesudah bayang hilang teduh
Kerna dahan sudah patah
Tapi ku yakin luka akan sembuh
Akhirnya kini aku pasrah
puisi serupa :
bila dahan sudah patah,
kenangan,
momen luka,
pudar,
skeptis,
tasbih resah
22.9.10
rindu melah
semalam
aku selak-selak
aku belek-belek
di celahan kitab usang
di bawah laci katil jati
aku jumpa ini
kertas lusuh terlipat dua
rakaman kanak-kanak
tentang kucingnya
yang nama melah
terlihat itu aku tergelak
tapi sejurus terus diam
dari diam perlahan jadi hiba
teringatkan melah
yang dah lama tiada
ya benar tekaan kamu
akulah kanak-kanak itu
melah kucing kesayangan ku
betapa aku rindukan melah
teman terbaik saat;
sepi gundah riang tawa ku
namun sudah begitu takdir nya
apa lagi nak ku sanggah
melah hilang tak kembali
menangis aku berhari-hari
sambil berdoa; "melah nanti kau balik ya"
tapi hampa
sekurun kenangan berlalu
kertas lusuh kulipat semula
dan dengan hujung baju
aku kesat air mata.
puisi serupa :
kenangan,
tentang rindu
10.7.10
bulan dan bintang cinta
bulan itu bulan kita
tersipu ia di balik awan kelabu
tak segan pula memalit sinar di hening wajahmu
tatkala kau terleka merenung takdir
pada kerdip bintang-bintang yang jauh
aku di tingkap mimpi
terdengar mereka nyanyi
senandung cinta kita
dan dalam dingin embun malam itu
kita pun terlena
nun di awan
bulan dan bintang sama tersenyum
cahaya mereka selimut kita..
puisi serupa :
kenangan,
malam,
tentang cinta,
untuk kamu
24.6.10
ulangtahun diri

lima belas hari sudah berlalu
separuh purnama sejak dari hari istimewa itu
istimewakah? hanya hari ulangtahun
yang saban tahun biasa-biasa cuma
tanpa ucapan maupun kata-kata indah
tiada keknya atau lilin untuk ku tiup
apatah hadiah dari yang mungkin mengenang aku
hari aku
lalu ku sedar sendiri
siapalah diri untuk meminta yang itu
dan meminta yang ini
sedang diri bagai gelandangan
sekilas pandangan tak terkesan
lalu ku pujuk-pujuk jiwa
bukanku hampa malah jauh pula kecewa
kerna tahun depan mungkin ada
ya,optimis! jika tidak pun tahun seterusnya
namun,dari siapa?
ah tak ku harap
sekadar berangan
dalam pada berdoa sendiri
dalam sunyi menghitung detik-detik mendatang
andai jalan ku masih panjang
"wahai tuhan berkatilah,
di dunia ini,
biarlah aku bagai dilupakan,
ku harap Kau mengingatiku"
10.6.10
di bawah pohon kenangan dan tepian sungai yang keruh itu

di tepian sungai yang keruh itu
dalam sabar menanti
bersaksikan pohon kenangan kita
hijau nya telah pun mula pudar dan layu
ku lihat kau makin hanyut
ke muara ampangan yang jauh
yang air nya
sekeruh gelodak jiwaku kini
lelah hanyut kau ke muara tak bernama
meninggalkan aku sendirian
setia di tebing itu
setia mengharap kau ke sisi
namun
saat musim berganti
sungai kekeringan
pohon kenangan makin hilang keteduhan
aku kedinginan
kau tetap tidak kembali
akhir cerita
di bawah pohon kenangan yang sama
yang kini telah gugur daun malahan reput rantingnya
dan dalam penantian yang abadi
takdirnya terkuburlah aku di situ.
puisi serupa :
jiwa,
kenangan,
pokok,
tentang cinta,
tentang rindu
8.6.10
redup rabiulthani
Damai petang Rabiulthani
Tersimpuh aku di bawah redup kemboja
Lama di keteduhan itu
Perlahan-lahan ku lagukan
Baris-baris syair dari tuhan
Sedingin makna embun subuh itu
Meresap ia ke lubuk-lubuk yang dalam
Semilir petang meniupkan harumnya
Bersama-sama harum kemboja
Lalu menghilir pula ia ke benua-benua yang jauh
Untuk yang tercinta
Antara yang sudah
Kutamatkan syair itu
Dalam penantian dan persoalan
Akan bila pula saat untukku?
puisi serupa :
jiwa,
kenangan,
pokok,
tentang cinta,
tentang rindu,
titis hujan
13.5.10
petikan 'leraian novella'
di hujung tikungan penuh kerikil ini
sang lelaki tak upaya lagi tunduk mengutip
daun2 resah
yang mendesah antara tatapan dan senyum
perawan duka itu adalah
nafas getir dan gusar
ketika akan melangkah
memasuki kapal
memulakan pelayaran
menuju pulau zaman abadi
maha besar Tuhan yang mempertemukan sepasang kehidupan
maha besar pula Tuhan yang menjarakkan sepasang harapan
pelabuhan akan terus menghirup sunyinya
setelah kapal berangkat jauh
ke pulau asing
irama tidak akan lagi mendayu
lagunya telah mula dipadamkan
dan terbenam abadi di pusara
seorang pencinta.
0
komen
Share to XShare to Facebook
sang lelaki tak upaya lagi tunduk mengutip
daun2 resah
yang mendesah antara tatapan dan senyum
perawan duka itu adalah
nafas getir dan gusar
ketika akan melangkah
memasuki kapal
memulakan pelayaran
menuju pulau zaman abadi
maha besar Tuhan yang mempertemukan sepasang kehidupan
maha besar pula Tuhan yang menjarakkan sepasang harapan
pelabuhan akan terus menghirup sunyinya
setelah kapal berangkat jauh
ke pulau asing
irama tidak akan lagi mendayu
lagunya telah mula dipadamkan
dan terbenam abadi di pusara
seorang pencinta.
26.4.10
cinta yang hilang

aku yang tergaduh dalam perit mencari cinta yang hilang
kutemui hanya resah hanya pilu
tatkala cinta berpaling wajah
enggan ia percaya malahan mustahil mahu kembali
hanya kerna aku bukan dia
maka
gelaplah dunia
dan sempurnalah hakikat
bahawanya
cintamu bukan paksaan
sayangmu bukan mainan
hatimu bukan gadaian
akhirnya ku akur
dan tertunduklah diri
hiba dan luka
sendirian.
kutemui hanya resah hanya pilu
tatkala cinta berpaling wajah
enggan ia percaya malahan mustahil mahu kembali
hanya kerna aku bukan dia
maka
gelaplah dunia
dan sempurnalah hakikat
bahawanya
cintamu bukan paksaan
sayangmu bukan mainan
hatimu bukan gadaian
akhirnya ku akur
dan tertunduklah diri
hiba dan luka
sendirian.
(buat yang mungkin mengerti...walau sekejap amat ku hargai)
puisi serupa :
kenangan,
tentang cinta,
untuk kamu
31.1.10
Teristimewa buat CLJ
(Buat anda blogger CLJ...Lara persembahkan khusus...)
Jiwa ini yg kau cari-cari
Tak mungkin dpt kau ketemu
Kerna ia telah hanyut
Membawa sarat luka dan hampa
Menyusur sungai hidup
Berarus tangis dan duka
Lewat syukur dan suka
Akhir hari
Nun di hujung kuala
Dibawah lembayung senja
Tatkala suria memanggilmu pulang
Aku pasti akan disitu
Menantimu dlm senyum
Kerna kebersamaan itu adalah nyata
Walau hanya,
Yg tinggal cuma bayang-bayang
Jiwa-jiwa ini ketemu jua.
2
komen
Share to XShare to Facebook
Jiwa ini yg kau cari-cari
Tak mungkin dpt kau ketemu
Kerna ia telah hanyut
Membawa sarat luka dan hampa
Menyusur sungai hidup
Berarus tangis dan duka
Lewat syukur dan suka
Akhir hari
Nun di hujung kuala
Dibawah lembayung senja
Tatkala suria memanggilmu pulang
Aku pasti akan disitu
Menantimu dlm senyum
Kerna kebersamaan itu adalah nyata
Walau hanya,
Yg tinggal cuma bayang-bayang
Jiwa-jiwa ini ketemu jua.
puisi serupa :
kenangan,
untuk kamu
Pagi yang sakit

pagi ini pagi yang sakit
dan berkelana lah aku di atas rimbun awan kelabu
dari titis-titis embun kelmarin
dan air mata duka
dan di bawah
sayup hijau basah bumi tuhan
dan pagi ini seperti pagi-pagi yang lain
tikus berkejaran riang antara reroda rapuh
pipit berkiung girang antara bebukit merah
sang kucing masih enak di sangkar mimpi
dan di sini
tika semut gula nya diambil orang
pantas teh itu kubancuh,perlahan
dengan sisa2 airmata duka
dengan iringan sayup doa
moga pagi ini tidak lagi sakit
ia bisa sembuh
kerna sesungguhnya
yang sakit itu adalah aku...
puisi serupa :
kenangan,
titis hujan
Ebiet G.Ade's
Kau pahat langit dengan angan-angan,
Kau ukir malam dengan bayang-bayang,
Jangan hanya diam yang kau simpan,
Dalam duduk termenung malam yang kau sapa lewat tanpa jawab...
Ebiet G.Ade
0
komen
Share to XShare to Facebook
Kau ukir malam dengan bayang-bayang,
Jangan hanya diam yang kau simpan,
Dalam duduk termenung malam yang kau sapa lewat tanpa jawab...
Ebiet G.Ade
Subscribe to:
Posts (Atom)