Showing posts with label Hasan Aspahani. Show all posts
Showing posts with label Hasan Aspahani. Show all posts

4.2.16

Kau adalah Luka di Lukaku - Hasan Aspahani

KAU adalah luka di punggungku. Sayat sakit itu seperti lembut tanganmu, sepanjang malam mengelusku, dan aku tak mau tidur.

KAU adalah luka di dahiku. Aku memperlama lafaz doa dalam sujudmalamku, menikmati makin parah perih itu.

KAU adalah luka di lidahku. Tiap kali terasa sakitnya, aku seperti sedang dipaksa menyebut namamu.

KAU adalah luka di telapak tanganku.
Aku menadah darah sendiri, agar tak ada orang tahu ada luka di situ.

KAU adalah luka di dua kakiku. Luka
bekas kulepas besi belenggu, yang kini tak lagi menahanku mengejar menemukanmu.

KAU adalah luka di hatiku. Aku menunggu
kelak kau bertanya, "dengan apa kusembuhkan luka itu?"
Dan kujawab, "lukai saja lagi aku!"

Jun 2010 oleh Hasan Aspahani

2 komen

29.9.12

Ruang Renung Hasan Aspahani


Ruang Renung #255


"APA yang harus ada di kepala saat seseorang menulis puisi? Apakah ia harus menentukan ia hendak menulis sajak liris atau sajak protes? Apakah ia hendak menulis untuk dirinya sendiri atau untuk siapa yang kelak membaca sajaknya? Apakah ia harus menimbang-nimbang apa kelak reaksi pembaca atas sajaknya? Apakah ia harus menimbang apakah sajaknya nanti membuatnya masuk penjara? 

Saya bilang, lupakan saja semua itu. Menulislah saja tanpa beban. Ingat, menulis adalah bagian dari upaya kita mencintai puisi. Maka, menulislah seakan hanya ada kau dan puisi. Layanilah kehendak puisi dengan sebaik-baiknya. Puaskanlah puisi. Menulislah tanpa peduli siapa dirimu dan bahkan saat itu lupakan saja apa itu puisi."

- Hasan Aspahani

0 komen

7.9.11

Rebak Rilke

(Karya : Hasan Aspahani)

MAUTKAH kekasih itu --- dia yang berpeluk padamu?

Cinta mungkin memang bukan perjalanan. Ia bisa tak berjarak, tapi, padamu, ia tak jua bisa sampai.

Tangiskah kekasih itu -- dia yang merebak di matamu?

Cinta mungkin memang seperti perempuan itu berlagu - antara sengguk dan sendu - Dan kau tepermangu

Sajakkah kekasih itu --- dia yang jaga hangat hatimu?

Kau tak lagi ingin mengandaikan Cinta sebagai apa, sebab siapa Penyair yang ingin tanggung menanggung bebannya?



***Sebuah lagi puisi indah hasil karya Hasan Aspahani. Anda juga boleh membaca terjemahannya di dalam Bahasa Inggeris oleh Lara di sini. Nota lain; Rainer Maria Rilke, seorang penyair Bohemia-Austria (4 Dis 1875 - 29 Dis 1926) .

0 komen

31.8.11

Romansa Siapa Saja

(karya : Hasan Aspahani)


HIDUP ini, hidup kita ini, bukan lagi bukit bukau
menjulang seratus depa kelapa, telah lama terjatuh buah bungar.
Kini menjaga putik, bungsil & mumbang.

*

KITA hanya bisa ingin saling sabar bertukar:
Kau dengan kesepian yang tak mampu kumengerti
aku punya kepedihan yang tak pernah kau miliki

Seperti di kedai kafe yang aku tak peduli namanya,
kita para penyinggah resah, yang juga tak tahu pasti,
kenapa bisa sampai dan lama di meja ini

Mencari. Sesuatu, entah di gelas-gelas kopi, atau mesin pencari. Sampai pergi. Sendiri. Sendiri.

Hingga bular pandang. Entah mana yang bukat likat
udara yang menyenja, atau asin airmata.

O, entah kenapa, kafe ini sejak tadi mengulang lagu Kahitna.

Aku menyimpan saja,
selingkar bumban bunga melati
yang kubayangkan kelak kumahkotakan pada rambutmu.

Kau mungkin menunggu jam putar, sinema yang akan kau tonton sendiri
di layar yang hanya membawamu kembali ke sepi yang lama kau pelihara sendiri

*

O, hidup ini, kata-kata yang tak kita mengerti,
dan kamus itu, sudah lama kita tak menyentuhnya.


***Sebuah sajak yang sangat indah hasil nukilan saudara Hasan Aspahani. Anda juga boleh membaca terjemahannya dalam Bahasa Inggeris oleh Lara (dgn bantuan seorang teman dari Johor yang namanya enggan disiarkan).
Published with Blogger-droid v1.7.4
0 komen

27.8.11

Can This Poem Make You Cry?

(Karya asal : Hasan Aspahani)

I wrote this from a messy life,
when age is a secret number,
yet it cannot be hidden any longer.

Can this poem make you cry?

But, hey, how dare I, to say that life is messy?
We may not be who we were before,
an unripe love to adore,
a careless care, with a blushed flush,
emotion in a letter to say the least
jammed between a chapter,
of Pancasila Moral Studies.

Yes, surely we are no more Marys and Billys
who folded our school shirt's sleeves,
and run truant to the matinees,
at a theatre screening teenish romance,
with titles that had a limited vocab
of 'love', 'campus', or something like that.

So I wrote this poem from a memory no longer reachable.
A get-you theory that had gone feeble. Because of that, would you cry?

***

I wrote this from a life - hmmm is there a better word than - messy?
We have swallowed the age pill - and that means we have a skill in deceiving how we feel.

Like, when invited to attend a reunion party.

Auch, how many decades had it been
a school skirt as your second skin?
that which you had stealthily shortened
from its official length as written
on a student rulebook you were given?

Hey, how do you now call a lover
who can never be? Laugh as if nothing is amiss - laughing at your own silly anxiety - when he asked the question,"do you remember our first kiss?"

"That wasn't a kiss," you dismissed, "it wasn't!"

That's it, I wrote this from a memory that so want to - though impossible - be forgotten, and so want to - though infallible - be repeated, so is there any use for a question so dry:

...can this poem make you cry?

***

We may now want to run from that love.

But, even if we try, can then life not be
hmmm - why have I lost my dictionary,
each time I want to write there's only - messy?

Actually, I should ask no more at a good bye, whether this poem made you cry.


***A beautiful poem by Hasan Aspahani. Wonderfully translated by Gilda Sagrado. You can read the original text in Bahasa Indonesia here.

 
0 komen