20.12.13
Perihal Puisi (i)
25.11.13
Percakapan Pagi di Klyde Warren Park (vii)
10.11.13
Percakapan Pagi (vi)
Ketika 'tidur' adalah suatu kata kosong kerap kau ungkap - mata mengiyakan tanpa bicara
Kini adalah suatu bunyi asing - ia bikin kepalamu pusing
Ada denting buluh yang terdengar menjauh - seperti gundah - di malam sewaktu angin lewat
Barangkali ada pesan pengukir pada anak anaknya yang tak ingin ditafsir
Seperti suatu malam di hujung kalendar - pungguk gemetar
Bulan semacam enggan - tak lagi keluar
Lalu langit adalah kelam matanya - yang sunyi
Terdengar suara ambulan lirih di pagi embun tak habis menitis
Kecemasan biasa isi kota yang harus bangkit sekalipun sakit
Kerana di kota ini nasib tak menunggumu - mengaislah di kabut pagi yang serupa kabut maut itu
Ya, benar katamu itu; pagi dan matahari adalah sahabat tanpa syarat
Tapi hari ini kau lihat; matahari telah menolak janji dan membuat pagi menangis gerimis..
28.10.13
Selepas itu samsara.
Sebelum tercipta Nur
sebelum ada nabi nabi
sebelum wali wali
sebelum ahli politik
sebelum pengadu domba
sebelum semua
pekerjaan Tuhan
diam di Arasyh-Nya.
3.10.13
Apa yang ada sesudah tiada.
Seorang politikus mati; mayat dirawat badan dikafan namun ruang solat sepi
Rakyat tidak peduli demikian dustanya menggali kubur sendiri..
Seorang pelacur mati; malaikat dengan santun menuntunnya ke suatu taman serupa syurga
Di pusaranya ada seekor anjing melolong hiba..
Seorang pelaut mati; angin dan laut yang purba akan saling mengucapkan eulogi
Seorang sahabat lama telah menemukan pelabuhannya yang abadi..
Seorang penyair mati; dan tak ada yang menangisi
Melainkan kata kata pada puisi itu yang tak akan pernah sempat ditulisnya lagi..