Penyajak itu menanak puisi - perutnya berbunyi, tubuh menggeletar kerana lapar.
Penyajak itu tidak peduli - kerana puisi, ia mengabaikan nasi di pinggan yang terbiar.
Penyajak itu menanak puisi - perutnya berbunyi, tubuh menggeletar kerana lapar.
Penyajak itu tidak peduli - kerana puisi, ia mengabaikan nasi di pinggan yang terbiar.
Kita sering memberi nama kepada perasaan yang kadangkala tak mengerti mengapa ia harus dinamakan
Sebab apa yang tak pernah disentuh kesedihan barangkali tak wujud, tinggallah hanya kita yang keliru;
mengapa begini?
mengapa begitu?
Ketika 'tidur' adalah suatu kata kosong kerap kau ungkap - mata mengiyakan tanpa bicara
Kini adalah suatu bunyi asing - ia bikin kepalamu pusing
Ada denting buluh yang terdengar menjauh - seperti gundah - di malam sewaktu angin lewat
Barangkali ada pesan pengukir pada anak anaknya yang tak ingin ditafsir
Seperti suatu malam di hujung kalendar - pungguk gemetar
Bulan semacam enggan - tak lagi keluar
Lalu langit adalah kelam matanya - yang sunyi
Terdengar suara ambulan lirih di pagi embun tak habis menitis
Kecemasan biasa isi kota yang harus bangkit sekalipun sakit
Kerana di kota ini nasib tak menunggumu - mengaislah di kabut pagi yang serupa kabut maut itu
Ya, benar katamu itu; pagi dan matahari adalah sahabat tanpa syarat
Tapi hari ini kau lihat; matahari telah menolak janji dan membuat pagi menangis gerimis..