20.5.15

Un-Brahma

Di antara buruj bintang yang semakin hilang, diam sesusuk dewa terbuang -- loceng loceng tak lagi berbunyi, Ananda mengarang nasibnya sendiri.

0 komen

17.5.15

Belasungkawa Dompet Ungu

Aku menuliskan ini sebagai eulogi
mengenang dompet yang hilang -
keciciran entah di mana
tak kupunya apa berharga -
cuma kad pengenalan diri (yang kumiliki sejak sepuluh tahun lalu)
dan beberapa kad bank lama -
kuning dan lusuh oleh masa
serta kertas kumal entah apa
yang kuingat resit belanja serta tiket bas sehelai dua -
terselit di antara lipatan yang sobek zipnya
Wang?
pun takkupasti berapa nilainya -
barangkali sehelai not hijau dan biru
mungkin tiga
lain lain tak ada.


Aku takmenangis bahkan takingin pun
kalau terkilan, iya
pertama kali kehilangan seperti ini -
beberapa malamnya aku gelisah, entah dompet itu sejuk ketakutan, lebih lagi parah, menangis ia mau pulang tapi jalan kembali tak ia jumpa
aku perlahan memujuk perasaan sendiri -
dompetku sudah sudah wajar berdikari
aku takmahu ia bergantung padaku lagi (bukan sebaliknya? pun iya juga)
dompet unguku sayang
engkau berjasa
engkau akan sering aku ingat sebagai sesuatu yang paling setia
semoga kita takjumpa lagi.

0 komen

18.4.15

Percakapan Petang (26:227)

Di sebuah semesta lain, puisi adalah rintik rintih hujan -- kata kata meluruh dan menumbuh perasaan. Walaupun tidak ada nabi yang menukar air kepada wain, orang orang cukup mabuk dengan menghirup renyai kesedihan.


"Alangkah anehnya, di sana penyair (tetap) bukan tuhan, bukan?"


0 komen

12.4.15

Percakapan Petang (i)

Seperti semalam, wajahnya keruh, memandang aku selama ia duduk di bangku taman itu. Tak sepatah ia bicara. Hanya diam dan sesekali terbit jernih air dari sudut matanya yang cantik. Perempuan yang entah mengapa, harus aku jatuh kasihan padanya (barangkali kerana melihatkan kesedihannya yang tak kupahamkan itu). Demikianlah kemudian dengan perlahan lahan ku oleskan warna tubuhku pada
rambutnya
dahinya
keningnya
matanya
pipinya
hidungnya
lehernya
bahunya
dadanya
pinggangnya
dan kakinya sebelum seluruh tubuhnya ikut sewarna tubuhku. Dan betapa wajahnya terus bangkit bersinar seolah pertama kali merasa bahagia (barangkali tersedar dari kesedihan yang panjang) dan dengan senyum yang cukup manis, perlahan ia ucapkan ...

1 komen

12.2.15

Etcetera (iii) : Paro

: Devdas

Kata Devdas; Paro menghidupinya, di setiap helaan nafas. Namun yang Paro taktahu; dialah kelak yang akan mati, setelah api vilakku itu taklagi abadi.

1 komen