30.9.24

Dum Spiro Cano (ii)

: Untuk JM

Ya Tuhan, kecemasan apakah yang telah kau hamburkan kini?
Kecintaan yang tiba tiba; taktertepiskan, lagi takbertepi,
Seperti Icarus yang rela mampus dihangus berahi mentari,
Infatuasi ini oh peritnya meremukredamkan hati,
Wahai, betapa walang hidup andai dia tak kupunyai..

Tapi aku tahu, seorang lelaki baik seperti ini takmungkin bisa dimiliki,
Maka cukuplah saja aku mabuk dalam semar rindu yang mencelakakan diri,
Serupa Sysipus yang selamanya menolak realiti,
Biar hanyut kuratibkan namanya sampai mati,
Demi dia, sungguh aku taklagi peduli..

Cheras | 20092024 

0 komen

27.9.24

Dum Spiro Cano (i)

: For JM

"When do things hurt us?
Simply when we love them, utterly passionately – death is merciful."

And you're now definitely killing me, my darling.
Still I, unashamedly wish to be your martyr.

Cheras | 27092024

0 komen

5.3.18

Boi (i)

Ya, hidup memang sidang judi, boi
maka terusanlah yakin beranikan bertaruh
sebab adakala engkau pasti menang
(sesering engkau jatuh kalah).

Demikianlah betapa rawak daun dikocak, boi
mumpung percaya di kebetulan kebetulan apapun 
yang jelas antara nasib dan free will
engkau tetap 'kan fucked up di tengah tengah.


1 komen

29.8.17

Sekhak - Goenawan Mohamad, 2010

Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu. 

Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu 

sebelum saatnya. 

Dan seekor kuda rubuh. 

Dua bidak lari ke sudut. 

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.” 

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap. 

”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kerap sepanjang meja. Jam berdetak-detak seperti suara tongkat orang buta yang tabah. Ster. Sekhak. ”Jangan serahkan kami pada nasib.” 

Tapi tiga pion lagi rubuh. Sebuah benteng muncul perkasa dari pojok. Musuh menyerbu. Sayap kiri bengkah. Di papan yang datar itu, hanya ada derap bergegas dan trompet infantri. Parit-parit dikosongkan. Roda-roda kanon didorong. ”Dengarkan suaraku, dengarkan suaraku, komandan peleton!” 

Barangkali asap adalah setanggi, Maestro. Barangkali sudah datang saat berkabung. Akan selalu ada ratu yang dikabarkan tertawan, dan bendera-bendera diturunkan, dan opsir yang berpikir: jangan-jangan perang tak mesti berhenti. 

Pada batang rokok yang kedua seseorang tertawa: kita akan pergi, Bung. Tapi di meja itu, di papan itu, pergi serasa menakutkan. Selalu ada sebuah fantasi tentang menang dan mengerti, sampai punah bidak di dataran pertama dan kau dengar ”sekhak”. 

Ia tak tahu apa yang harus diingat dari kata itu. 

2010


0 komen

19.4.17

Menjawab Goenawan Membaca Miguel

Demikian bicaramu;

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman yang takpunya tanda
kecuali
warna sepia.*

...

Namun aku taklagi sepia
tubuh hitam lumpur yang sisa
akan masihkah berapi inginmu?
akan masihkah, kekasihku?

*Goenawan membaca Miguel, 1996

0 komen