Showing posts with label Bukan Tuah. Show all posts
Showing posts with label Bukan Tuah. Show all posts

21.6.16

Lelaki Pemberani Yang Menangis

: Bukan Tuah

Di hadapanku seorang teman dari balik secawan kesepian dalam seduhannya mencari cari entah apa
barangkali tak akan kupahami kesayuannya itu tetapi aku mengerti sakitnya ngilu;

Kubilang jangan takut menangis teman, kerana seorang lelaki pemberani pun memang bisa kalah
hey, kukira hidup bukanlah lawan untuk kau menangi, ia kawan yang mengajari tentang tahan bertabah.

Malayan Hainan Cafe | 191215

0 komen

1.10.15

Ikebana di Matamu (iii)

: Bukan Tuah

Kesedihanmu adalah kenestapaanku adalah apa yang pernah menumbuh di sebatas sajakku dulu. Aku takingat membajak walang tapi aku taklupa sebaris kata yang kau petik itu - yang kini telah kau kalungkannya di matamu - memang terangkai dari huruf huruf yang telah lama meneteskan tangis kita.

18:33 | 060915
0 komen

16.10.14

Sajak Sebotol Air dan Sepasang Rayban Buat Tuan Wartawan

: Bukan Tuah

Aku melihat seorang wartawan dengan sekeping placard, berarak di jalan penuh semangat
Aku menyaksikan seorang teman melaungkan apa yang dia percayai, sampai ikut bangkit seisi negeri.

Aku melihat seorang wartawan meneriakkan total democracy, agar tak ada lagi tulisan tersekat
Aku menyaksikan seorang teman berpanas di bawah terik hari, supaya tak ada rakannya dizalimi lagi.

Tekaknya perit melaungkan enggan kepada Akta Hasutan
kerana ketidakadilan memang takcukup sekadar ditentang dengan mata pena.

Matanya silau diterjah hangat hari di parlimen jalanan
kerana kebebasan memang takpercuma - ia harus dibeli dengan peluh dan teriakan suara.

(Untukmu tuan wartawan, inilah sajak sebotol air dan sepasang Rayban - sebagai pesan - agar taklupa kau bawa di lain perarakan. Ha!)
0 komen

7.8.14

Percakapan Pagi (xi)

: Bukan Tuah

Di waktu malam malam telah lewat
aku di rumah dan engkau di pejabat
kita akan bercakap tentang apa saja
demikianlah adakalanya kita bicara;
engkau tentang puisiku
aku pula tentang kerjamu
dan kita akan selalu berakhir dengan tersedu-mengadu tentang apa yang sebenarnya kita mahu tapi takberlaku;
"Pencen saja kerja, aku mau berpuisi!" - jeritmu
"Cukup sudah berpuisi, aku mau kerja!" - pekikku.

Kita terusnya akan menyambung berbaris baris berbual tentang entah apa lagi;
warung garuda, politik dan korupsi, sasterawan negara, wayang terkini, penyajak lama, buku puisi
seperti itulah kita kemudiannya merancang rancang sampai melompat ke seberang
membayangkan pula berpetualang ke negeri orang
dan kita akan saling menyelit kata semangat;
"Kau harus terus menulis, bersajak membebaskan luka." - pujukku
"Kau harus segera kerja, mengumpul tambang kapal terbang." - tegasmu
kitapun serentak bertempik - "Semangat!"

Begitulah gilanya kita dalam diam kata kata
bercakap seolah olah tak ada habisnya
berbual seakan akan tak ada penatnya mengabaikan waktu tak memperdulikan masa
sampai kita sama teringat - "Ah lihat, sudah betapa lewat?" (seperti kesal ia harus tamat)
aku lalu akan menyuruhmu pulang
dan engkau akan mengucap selamat
"Kita bicara lagi, nanti." - tuturmu, seayat.
"Ya, berhati hatilah memandu." - balasku, berat.

Seperti itu saja. Sampai esok pula.

(Aku akan tidur tersenyum mimpi bercakap denganmu, lagi. Engkau juga begitu, barangkali?)


0 komen