21.6.16
Lelaki Pemberani Yang Menangis
1.10.15
Ikebana di Matamu (iii)
18:33 | 060915
16.10.14
Sajak Sebotol Air dan Sepasang Rayban Buat Tuan Wartawan
Aku melihat seorang wartawan dengan sekeping placard, berarak di jalan penuh semangat
Aku menyaksikan seorang teman melaungkan apa yang dia percayai, sampai ikut bangkit seisi negeri.
Aku melihat seorang wartawan meneriakkan total democracy, agar tak ada lagi tulisan tersekat
Aku menyaksikan seorang teman berpanas di bawah terik hari, supaya tak ada rakannya dizalimi lagi.
Tekaknya perit melaungkan enggan kepada Akta Hasutan
kerana ketidakadilan memang takcukup sekadar ditentang dengan mata pena.
Matanya silau diterjah hangat hari di parlimen jalanan
kerana kebebasan memang takpercuma - ia harus dibeli dengan peluh dan teriakan suara.
(Untukmu tuan wartawan, inilah sajak sebotol air dan sepasang Rayban - sebagai pesan - agar taklupa kau bawa di lain perarakan. Ha!)
7.8.14
Percakapan Pagi (xi)
Di waktu malam malam telah lewat
aku di rumah dan engkau di pejabat
kita akan bercakap tentang apa saja
demikianlah adakalanya kita bicara;
engkau tentang puisiku
aku pula tentang kerjamu
dan kita akan selalu berakhir dengan tersedu-mengadu tentang apa yang sebenarnya kita mahu tapi takberlaku;
"Pencen saja kerja, aku mau berpuisi!" - jeritmu
"Cukup sudah berpuisi, aku mau kerja!" - pekikku.
Kita terusnya akan menyambung berbaris baris berbual tentang entah apa lagi;
warung garuda, politik dan korupsi, sasterawan negara, wayang terkini, penyajak lama, buku puisi
seperti itulah kita kemudiannya merancang rancang sampai melompat ke seberang
membayangkan pula berpetualang ke negeri orang
dan kita akan saling menyelit kata semangat;
"Kau harus terus menulis, bersajak membebaskan luka." - pujukku
"Kau harus segera kerja, mengumpul tambang kapal terbang." - tegasmu
kitapun serentak bertempik - "Semangat!"
Begitulah gilanya kita dalam diam kata kata
bercakap seolah olah tak ada habisnya
berbual seakan akan tak ada penatnya
mengabaikan waktu tak memperdulikan masa
sampai kita sama teringat - "Ah lihat, sudah betapa lewat?" (seperti kesal ia harus tamat)
aku lalu akan menyuruhmu pulang
dan engkau akan mengucap selamat
"Kita bicara lagi, nanti." - tuturmu, seayat.
"Ya, berhati hatilah memandu." - balasku, berat.
(Aku akan tidur tersenyum mimpi bercakap denganmu, lagi. Engkau juga begitu, barangkali?)