Showing posts with label sepasang kekasih dan nota dari tuhan. Show all posts
Showing posts with label sepasang kekasih dan nota dari tuhan. Show all posts

3.11.14

Telah Kutuliskan Serangkap Sajak Paling Mulus Di Malamku Paling Sepi

Ada suatu ketika tatkala malam merebakkan sepi
melewati nyala puntung puntung rokok dan kilat pekat buih bir barli
aku tiba tiba terasa ingin menuliskan sebuah sajak mulus
perihal cintanya itu yang selalu manis bersama sama rinduku ini yang takpernah habis

Namun, kesepian, bila tak menjemput ingatan ingatan yang buruk dari masa lampau yang lapuk - adalah pesuruh kebenaran yang tabah menghindar mimpi dan pura pura dalam puisi

Demikianlah ia dengan lembutnya mengingatkan aku;

"Mimpi lagi? Lupakah kau cintanya telah padam dan kini tinggal kabur kepulan asap? Bahkan rindumu itu pun taklebih sekadar pahit yang sering kauteguk dari botol botol kaca gelap?"

Mendengarkan itu pen pun longlai di jari, aku takmampu menipu sepiku sendiri
kuakui kebenaran memang tak selalu mulus, tapi ya, puisi yang pura pura jauh lebih menyuramkan

Tapi oleh kerana pengkhianatannya terlalu sakit untuk disajakkan dan duka dukaku pula terlalu perit untuk dikarang
maka akhirnya, di lewat malam yang sepi itu akupun memutuskan untuk tidak lagi mahu menuliskan apa apa

Dan di atas helaian kertas, yang tertinggal hanyalah serangkap basah air mata.

2 komen

4.8.13

Sebelum lagu usai dan puisi langsai.


Di hujung langit lumpur dan kelabu
mereka adalah sepasang kekasih yang melupakan dan dilupakan waktu
di zaman manusia tak lagi mengenal cinta dan kemanusiaan
ketika kebahagiaan dan dendam saling memeluk dan mengutuk nasib
kedukaan adalah jalan dan janji menuju abadi.

Setelah semua
lelaki itu masih lagi dengan gitar dan suaranya
perempuan itu masih jua dengan pensil dan kertasnya
lagu pun teruslah dinyanyikan dan puisi pun tetaplah dibacakan
sehingga doa menemu jalan menuju tuhan.

Demikianlah cerita hanya akan tamat setelah lagu usai dan puisi langsai.

0 komen

5.7.12

sepasang kekasih dan nota nota dari tuhan (xv)

Pada bundar mata dan jelinya, serupa...seperti apa itu penyajak sering menyebutnya? Oh ya, jernih air perigi. Tapi kau lebih asli lagi.

Barangkali yang diperlukan, adalah, hanyalah; sebuah pelukan. Wahai tuan, bermurah hatilah, cinta tak harus terusan bertingkah.

..lalu doa pun menggantungkan dirinya di ujung tali temali hati. Walau pada Nya telah ia sampai, tapi padamu ia tak mampu.

Barangkali yang retak itu adalah hati, bahawa padanya ada cinta yang tak sampai dan duka yang tak selesai. Wahai tuan, usahlah bermuram lagi, bukankah saya ada di sini?

Sebuah pagi, bundar mimpi yang takkan nyaris aku lupakan. Kerana kita adalah sepasang horizon; yang saling mengejar dan takkan terkejarkan.

Sudahnya, aku hanyalah sepotong doa yang tak pernah engkau lafazkan. Biar engkau adalah wirid yang tak pernah putus aku ratibkan.

Langit menjemputnya pulang. Pada segala yang ada di antara aku dan syurga, engkaulah kampung halaman, tempat berdiam segala kenangan.

Selamat jalan kebahagiaan; engkau yang pernah bertandang ke laman hati kami. Dari tuhan engkau datang, kepada tuhan lah engkau kembali.

Published with Blogger-droid v2.0.4
0 komen