Daun pandan daun selasih,
Ada sagu dibuat bubur,
Saat terpandang mantan kekasih,
Jantung berdegup rasa nak gugur.
Anak dara berbaju kebaya,
Santun pekerti bertambah ayu,
Kalau cinta sudah tiada,
Apalah lagi hendak kurayu.
Ewahhh!
Daun pandan daun selasih,
Ada sagu dibuat bubur,
Saat terpandang mantan kekasih,
Jantung berdegup rasa nak gugur.
Anak dara berbaju kebaya,
Santun pekerti bertambah ayu,
Kalau cinta sudah tiada,
Apalah lagi hendak kurayu.
Ewahhh!
Duka ini, adalah anak anak sepi. Pada rumah sebuah puisi, diam mereka di tangga kata serangkap nestapa. Penyajak itu tidak lagi tahu bagaimana mahu mengeja bahagia..
Lalu yang jatuh sakit adalah hati, cinta yang tak ketahuan pergi meninggalkannya sendiri sendiri. Sebegitukah mudah, aku kau anggap sekedar tempat bersinggah?
Selamat subuh, kebahagiaan. Engkau yang bersujud di laman hati kami. Demi pagi yang selalu taat, tak lambat walau sesaat, dan kau masih aja ada di situ. Kami, sesungguhnya, adalah sepasang kekasih yang bersyukur.