11.1.16

Perihal Puisi (ii)

Nyatanya, Puisi tidak boleh dipaksa. Ia akan hadir tiba tiba dan kau tidak boleh tidak meladeninya. Puisi adalah kekasih yang manja, ia garang, ia riang, ia menyimpan air mata, padanyalah tergantung seluruh kecintaan dan segala kecelakaan. Demikianlah kau hanya menulis Puisi bila ia membenarkan dirinya ditulis. Lalu tak aneh juga bahawanya bukan kau yang menulis Puisi - ia sebenarnya menulis dirinya sendiri (ha-!). Puisi jua tak akan pupus selagi kata belum terhapus. Seorang penulis Puisi adalah pendekar di medan makna. Hunjamkanlah pena itu-! Bertantanglah-! Bertarunglah-! Dengan ingatan bahawa sesungguhnya Puisi takkan rebah terkalah. Di akhirnya, penulislah yang akan tetap mati, hanya Puisi yang abadi.
0 komen

The Gardener Verse XXIX - Rabindranath Tagore

: Bear

Speak to me, my love! Tell me in words what you sang.

The night is dark. The stars are lost in clouds. The wind is sighing through the leaves. I will let loose my hair. My blue cloak will cling round me like night. I will clasp your head to my bosom; and there in the sweet loneliness murmur on your heart. I will shut my eyes and listen. I will not look in your face. When your words are ended, we will sit still and silent. Only the trees will whisper in the dark. The night will pale. The day will dawn. We shall look at each other's eyes and go on our different paths.

Speak to me, my love! Tell me in words what you sang.

0 komen

10.12.15

Pesan Dan Pujuk Buat Puan Penyajak

: Felly Sophia (yang dikhabarkannya sendiri menulis sajak ia takberani)

Wahai Felly;

Pena pasti meraung dan huruf lengking melaung
- di dalam baris penuh kalut
(Ya, sungguh jenuh menjinak sajak - berkali diseru tiada bersambut)
Kata akan bertarung dan makna saling bersabung
- di dalam rangkap penuh ribut
(Ya, benar sukar menakluk sajak - serupa laut liar berkabut)

Namun cekallah saja terusan bergelut
ajari gementar jadi melarut
Kutahu Puisi mengasihimu
maka tak usah lagi engkau takut-!

0 komen

2.12.15

Depression, Homelessness and Chow Kit (i)

Pillars of time, footsteps on harsh ground, soiled by abandoned trash and that foul stench of neglect.

Paths I've visited; welcoming me.

- Zashnain Zainal (@bedlamfury)

04:38 | 021215

0 komen

1.10.15

Ikebana di Matamu (iii)

: Bukan Tuah

Kesedihanmu adalah kenestapaanku adalah apa yang pernah menumbuh di sebatas sajakku dulu. Aku takingat membajak walang tapi aku taklupa sebaris kata yang kau petik itu - yang kini telah kau kalungkannya di matamu - memang terangkai dari huruf huruf yang telah lama meneteskan tangis kita.

18:33 | 060915
0 komen