28.5.15

Percakapan Pagi (xiii)

Sempit! Semuanya sempit! Hidup kalau mau diludah habis basah, pun dinding dinding ini peduli apa? Himpit! Lagi terus himpit! Biar belikat bertemu belikat. Biar rusuk bersilang rusuk. Biar pecah kepala. Biar hancur daging. Biar berkecai semua! Dan di satu sudut, orang orang berpusu pusu menolak menghinjak berteriak, "Tuhan! Tuhan!". Eh, kalau darah memang merah, cuma tinggal saja hanyirnya, "Allah!"


23.05.15 3.54 AM

0 komen

20.5.15

Un-Brahma

Di antara buruj bintang yang semakin hilang, diam sesusuk dewa terbuang -- loceng loceng tak lagi berbunyi, Ananda mengarang nasibnya sendiri.

1 komen

18.4.15

Percakapan Petang (ii)

Di sebuah semesta lain, puisi adalah rintik rintih hujan -- kata kata meluruh dan menumbuh perasaan. Walaupun tidak ada nabi yang menukar air kepada wain, orang orang cukup mabuk dengan menghirup renyai kesedihan.

Alangkah anehnya, di sana penyair (tetap) bukan tuhan.

0 komen

12.4.15

Percakapan Petang (i)

Seperti semalam, wajahnya keruh, memandang aku selama ia duduk di bangku taman itu. Tak sepatah ia bicara. Hanya diam dan sesekali terbit jernih air dari sudut matanya yang cantik. Perempuan yang entah mengapa, harus aku jatuh kasihan padanya (barangkali kerana melihatkan kesedihannya yang tak kupahamkan itu). Demikianlah kemudian dengan perlahan lahan ku oleskan warna tubuhku pada
rambutnya
dahinya
keningnya
matanya
pipinya
hidungnya
lehernya
bahunya
dadanya
pinggangnya
dan kakinya sebelum seluruh tubuhnya ikut sewarna tubuhku. Dan betapa wajahnya terus bangkit bersinar seolah pertama kali merasa bahagia (barangkali tersedar dari kesedihan yang panjang) dan dengan senyum yang cukup manis, perlahan ia ucapkan ...

1 komen

12.2.15

Etcetera (iii) : Paro

: Devdas

Kata Devdas; Paro menghidupinya, di setiap helaan nafas. Namun yang Paro taktahu; dialah kelak yang akan mati, setelah api vilakku itu taklagi abadi.

1 komen