28.3.16

Un-masking Despair

0 komen

Eulogi Buat Nirwan

: Nirwan

Dari segala apa pun
yang sering aku kenangkan adalah kuntum senyummu
yang lemah dan selalu manis itu
lembut alun sibak rambutmu
berpendar cahaya
hitam bersulam harum zaitun
dan matamu yang memelihara derita
aku melihatnya serupa fajar pagi
kau buat basah dan penuh seri
ya, juga saat terakhir itu Nirwan
dingin genggam tanganmu juga tetap kuingat
serta kecup bibirmu yang pernah hangat pun tidak aku lupa;

Sebuah ketaatan
mimpi mimpi yang tak nyaris
menghapus dan hilang
Nirwan
kerana kau
rindu adalah serangkai ikebana di
makam cinta kita;

Jika mati
adalah jalan satu satunya
jalan terakhir
jalan yang ada
tak mengapa Nirwan
kerana telah ku wasiatkan
agar nanti kita tidur selahad;

Lalu kenangan pun mendebu
dalam musim yang tak mengenal hujan
sepasang daun kekeringan
gugur di pusara kita
dan cinta pun tak pernah
menumbuh lagi;

Setelah apa pun
aku tahu dan mengerti
dengan sesungguhnya
cinta bukanlah semata mata tentang kebersamaan
tapi matimu Nirwan
tak pernah adil untuk rinduku!

0 komen

4.2.16

Kau adalah Luka di Lukaku - Hasan Aspahani

KAU adalah luka di punggungku. Sayat sakit itu seperti lembut tanganmu, sepanjang malam mengelusku, dan aku tak mau tidur.

KAU adalah luka di dahiku. Aku memperlama lafaz doa dalam sujudmalamku, menikmati makin parah perih itu.

KAU adalah luka di lidahku. Tiap kali terasa sakitnya, aku seperti sedang dipaksa menyebut namamu.

KAU adalah luka di telapak tanganku.
Aku menadah darah sendiri, agar tak ada orang tahu ada luka di situ.

KAU adalah luka di dua kakiku. Luka
bekas kulepas besi belenggu, yang kini tak lagi menahanku mengejar menemukanmu.

KAU adalah luka di hatiku. Aku menunggu
kelak kau bertanya, "dengan apa kusembuhkan luka itu?"
Dan kujawab, "lukai saja lagi aku!"

Jun 2010 oleh Hasan Aspahani

2 komen

11.1.16

Perihal Puisi (ii)

Nyatanya, Puisi tidak boleh dipaksa. Ia akan hadir tiba tiba dan kau tidak boleh tidak meladeninya. Puisi adalah kekasih yang manja, ia garang, ia riang, ia menyimpan air mata, padanyalah tergantung seluruh kecintaan dan segala kecelakaan. Demikianlah kau hanya menulis Puisi bila ia membenarkan dirinya ditulis. Lalu tak aneh juga bahawanya bukan kau yang menulis Puisi - ia sebenarnya menulis dirinya sendiri (ha-!). Puisi jua tak akan pupus selagi kata belum terhapus. Seorang penulis Puisi adalah pendekar di medan makna. Hunjamkanlah pena itu-! Bertantanglah-! Bertarunglah-! Dengan ingatan bahawa sesungguhnya Puisi takkan rebah terkalah. Di akhirnya, penulislah yang akan tetap mati, hanya Puisi yang abadi.

0 komen

The Gardener Verse XXIX - Rabindranath Tagore

: Bear

Speak to me, my love! Tell me in words what you sang.

The night is dark. The stars are lost in clouds. The wind is sighing through the leaves. I will let loose my hair. My blue cloak will cling round me like night. I will clasp your head to my bosom; and there in the sweet loneliness murmur on your heart. I will shut my eyes and listen. I will not look in your face. When your words are ended, we will sit still and silent. Only the trees will whisper in the dark. The night will pale. The day will dawn. We shall look at each other's eyes and go on our different paths.

Speak to me, my love! Tell me in words what you sang.

0 komen