20.8.14

Percakapan Pagi (iix)

Barangkali kerana lelah senjanya, langitnya yang sering sunyi, bintang tak berbayang atau saja kerana embunnya yang takzim itu - semuanya seperti menyimpan sengsara - maka kupilih malam sebagai pengantinku.
0 komen

9.8.14

Etcetera (ii) : Amy Winehouse

: Love Is A Losing Game

Kata Amy; cinta itu satu permainan dan kau kan sering kalah. Yang tak disebutnya; biar menang kau takpernah, cinta akan selalu membuatmu tabah.

0 komen

Etcetera (i) : Chandramukhi

: Devdas

Kata Chandramukhi; dia tak mencintai Devdas. Dia bahkan memuja lelaki malang itu. Chandramukhi menekuni kata Nabi. Tinggal saja pelacur tak mungkin bersuami.


0 komen

7.8.14

Percakapan Pagi (ix)

: Bukan Tuah

Di waktu malam malam telah lewat
aku di rumah dan engkau di pejabat
kita akan bercakap tentang apa saja
demikianlah adakalanya kita bicara;
engkau tentang puisiku
aku pula tentang kerjamu
dan kita akan selalu berakhir dengan tersedu-mengadu tentang apa yang sebenarnya kita mahu tapi takberlaku;
"Pencen saja kerja, aku mau berpuisi!" - jeritmu
"Cukup sudah berpuisi, aku mau kerja!" - pekikku.

Kita kemudiannya akan menyambung berbaris baris berbual tentang entah apa lagi
warung garuda, politik dan korupsi, sasterawan negara, wayang terkini, penyajak lama, buku puisi
seperti itulah kita bermula lagi sampai melompat ke seberang
membayangkan pula berpetualang ke negeri orang
dan kita akan saling menyelit kata semangat;
"Kau harus terus menulis, bersajak membebaskan luka." - pujukku
"Kau harus segera kerja, mengumpul tambang kapal terbang." - tegasmu
kitapun saling bertempik - "Semangat!"

Begitulah gilanya kita dalam diam kata kata
bercakap seolah olah tak ada habisnya berbual seakan akan tak ada penatnya mengabaikan waktu tak memperdulikan masa
sampai kita sama teringat (seperti kesal ia harus tamat) - "Ah lihat, sudah betapa lewat?"
aku lalu akan menyuruhmu pulang
dan engkau akan mengucap selamat
"Kita bicara lagi, nanti." - tuturmu, seayat.
"Ya, berhati hatilah memandu." - balasku, berat.

Seperti itu saja. Sampai esok pula.

(Aku akan tidur tersenyum mimpi bercakap denganmu, lagi. Engkau juga begitu, barangkali?)


0 komen

28.7.14

Doa Buat Pemilik Mata Yang Luka

Wahai si pemilik mata
di remang matamu yang luka
ada penawar yang tak tawar
menghunjam ia jatuh
api pun bisa pudar
cahaya lumpuh layuh
dunia telah berpaling tadah
hatiku karah jiwaku lelah
pundakku perit dalam sujud aku menjerit
demikian dari takbir ke takbir
kulaungkan semboyan doa
bersama sama angin gasar yang melayangkan seribu kerambit
lemparkan batu itu seperti Ababil melontar api peluru
ledakkanlah langit musuhnya!
pasakkanlah gentar di jiwa mereka!
dan betapa langit di mana mana pun adalah cermin hati manusia
awannya telah retak lukanya habis merebak
persis luka di matamu itu
menitiskan amarah dan darah yang parah dan merah
maafkanlah aku wahai si pemilik mata
aku cuma punya kata kata
yang kugubah jadi sajak dan doa
dan barangkali
kerana musuhnya lebih perkasa
kerana tuhan lebih tahu
kerana belum sampai masa
kerana janjinya bukan palsu
maka pasrahlah saja kita di medan abadi sebuah penghujung duka
tapi kita bukan gagal bahkan tidak kalah!
kami yang tinggal akan menyambung langkah!
selamat jalan kawan terbanglah bersama para syuhada
dari zaman lama ketika para anbiya memerangi dusta
semoga yang pernah rebah menjelma semula
dari debu sama kuburmu yang tak bertanda
yang kelak menjadi istanamu di suatu taman di kota syurga
yang seluas seribu tanah Gaza
dan itulah yang selayaknya untukmu si pemilik mata Palestina .. yang telah lama luka.
0 komen