21.8.15

Puisi Pun Pupus

Pada "mengapa" kami tertanya; ketika kami mengabaikan Kata dan melupakan Makna, benarkah kami turut membuat Puisi menangis?

(airmata itu adalah ikatan huruf huruf yang dulu kami jalin dengan sepenuh suka dan perasaan bangga namun kini telah melerai mati tinggal jadi puing puing prosa yang kami sendiri tak lagi mengerti mengapa kami membinanya dahulu)

Pada akhir baris tulis itu, yang ada hanyalah sebuah perenggan pendek bisu dan setelahnya, sebentuk "titik" yang menikam tajam segala ragu.

Demikianlah, Puisi pun pupus.

0 komen

28.5.15

Percakapan Pagi (xiii)

Sempit! Semuanya sempit! Hidup kalau mau diludah habis basah, pun dinding dinding ini peduli apa? Himpit! Lagi terus himpit! Biar belikat bertemu belikat. Biar rusuk bersilang rusuk. Biar pecah kepala. Biar hancur daging. Biar berkecai semua! Dan di satu sudut, orang orang berpusu pusu menolak menghinjak berteriak, "Tuhan! Tuhan!". Eh, kalau darah memang merah, cuma tinggal saja hanyirnya, "Allah!"


23.05.15 3.54 AM

1 komen

20.5.15

Un-Brahma

Di antara buruj bintang yang semakin hilang, diam sesusuk dewa terbuang -- loceng loceng tak lagi berbunyi, Ananda mengarang nasibnya sendiri.

1 komen

17.5.15

Belasungkawa Dompet Ungu

Aku menuliskan ini sebagai eulogi
mengenang dompet yang hilang -
keciciran entah di mana
tak kupunya apa berharga -
cuma kad pengenalan diri (yang kumiliki sejak sepuluh tahun lalu)
dan beberapa kad bank lama -
kuning dan lusuh oleh masa
serta kertas kumal entah apa
yang kuingat resit belanja serta tiket bas sehelai dua -
terselit di antara lipatan yang sobek zipnya
Wang?
pun takkupasti berapa nilainya -
barangkali sehelai not hijau dan biru
mungkin tiga
lain lain tak ada.


Aku takmenangis bahkan takingin pun
kalau terkilan, iya
pertama kali kehilangan seperti ini -
beberapa malamnya aku gelisah, entah dompet itu sejuk ketakutan, lebih lagi parah, menangis ia mau pulang tapi jalan kembali tak ia jumpa
aku perlahan memujuk perasaan sendiri -
dompetku sudah sudah wajar berdikari
aku takmahu ia bergantung padaku lagi (bukan sebaliknya? pun iya juga)
dompet unguku sayang
engkau berjasa
engkau akan sering aku ingat sebagai sesuatu yang paling setia
semoga kita takjumpa lagi.

0 komen

18.4.15

Percakapan Petang (ii)

Di sebuah semesta lain, puisi adalah rintik rintih hujan -- kata kata meluruh dan menumbuh perasaan. Walaupun tidak ada nabi yang menukar air kepada wain, orang orang cukup mabuk dengan menghirup renyai kesedihan.

Alangkah anehnya, di sana penyair (tetap) bukan tuhan.

0 komen