4.2.16

Kau adalah Luka di Lukaku - Hasan Aspahani

KAU adalah luka di punggungku. Sayat sakit itu seperti lembut tanganmu, sepanjang malam mengelusku, dan aku tak mau tidur.

KAU adalah luka di dahiku. Aku memperlama lafaz doa dalam sujudmalamku, menikmati makin parah perih itu.

KAU adalah luka di lidahku. Tiap kali terasa sakitnya, aku seperti sedang dipaksa menyebut namamu.

KAU adalah luka di telapak tanganku.
Aku menadah darah sendiri, agar tak ada orang tahu ada luka di situ.

KAU adalah luka di dua kakiku. Luka
bekas kulepas besi belenggu, yang kini tak lagi menahanku mengejar menemukanmu.

KAU adalah luka di hatiku. Aku menunggu
kelak kau bertanya, "dengan apa kusembuhkan luka itu?"
Dan kujawab, "lukai saja lagi aku!"

Jun 2010 oleh Hasan Aspahani

2 komen

11.1.16

Perihal Puisi (ii)

Nyatanya, Puisi tidak boleh dipaksa. Ia akan hadir tiba tiba dan kau tidak boleh tidak meladeninya. Puisi adalah kekasih yang manja, ia garang, ia riang, ia menyimpan air mata, padanyalah tergantung seluruh kecintaan dan segala kecelakaan. Demikianlah kau hanya menulis Puisi bila ia membenarkan dirinya ditulis. Lalu tak aneh juga bahawanya bukan kau yang menulis Puisi - ia sebenarnya menulis dirinya sendiri (ha-!). Puisi jua tak akan pupus selagi kata belum terhapus. Seorang penulis Puisi adalah pendekar di medan makna. Hunjamkanlah pena itu-! Bertantanglah-! Bertarunglah-! Dengan ingatan bahawa sesungguhnya Puisi takkan rebah terkalah. Di akhirnya, penulislah yang akan tetap mati, hanya Puisi yang abadi.

0 komen

The Gardener Verse XXIX - Rabindranath Tagore

: Bear

Speak to me, my love! Tell me in words what you sang.

The night is dark. The stars are lost in clouds. The wind is sighing through the leaves. I will let loose my hair. My blue cloak will cling round me like night. I will clasp your head to my bosom; and there in the sweet loneliness murmur on your heart. I will shut my eyes and listen. I will not look in your face. When your words are ended, we will sit still and silent. Only the trees will whisper in the dark. The night will pale. The day will dawn. We shall look at each other's eyes and go on our different paths.

Speak to me, my love! Tell me in words what you sang.

0 komen

10.12.15

Pesan Dan Pujuk Buat Puan Penyajak

: Felly Sophia (yang dikhabarkannya sendiri menulis sajak ia takberani)

Wahai Felly;

Pena pasti meraung dan huruf lengking melaung - di dalam baris penuh kalut
(Ya, sungguh jenuh menjinak sajak - berkali diseru tiada bersambut)
Kata akan bertarung dan makna saling bersabung - di dalam rangkap penuh ribut
(Ya, benar sukar menakluk sajak - serupa laut liar berkabut)

Namun tetaplah saja terus menulis, biar gementar itu larut
Kutahu Puisi mengasihimu, maka tak usah lagi engkau takut-!

0 komen

2.12.15

Depression, Homelessness and Chow Kit (i)

Pillars of time, footsteps on harsh ground, soiled by abandoned trash and that foul stench of neglect.

Paths I've visited; welcoming me.

- Zashnain Zainal (@bedlamfury)

04:38 | 021215

0 komen