12.4.15

Percakapan Petang (i)

Seperti semalam, wajahnya keruh, memandang aku selama ia duduk di bangku taman itu. Tak sepatah ia bicara. Hanya diam dan sesekali terbit jernih air dari sudut matanya yang cantik. Perempuan yang entah mengapa, harus aku jatuh kasihan padanya (barangkali kerana melihatkan kesedihannya yang tak kupahamkan itu). Demikianlah kemudian dengan perlahan lahan ku oleskan warna tubuhku pada
rambutnya
dahinya
keningnya
matanya
pipinya
hidungnya
lehernya
bahunya
dadanya
pinggangnya
dan kakinya sebelum seluruh tubuhnya ikut sewarna tubuhku. Dan betapa wajahnya terus bangkit bersinar seolah pertama kali merasa bahagia (barangkali tersedar dari kesedihan yang panjang) dan dengan senyum yang cukup manis, perlahan ia ucapkan ...

0 komen

12.2.15

Etcetera (iii) : Paro

: Devdas

Kata Devdas; Paro menghidupinya, di setiap helaan nafas. Namun yang Paro taktahu; dialah kelak yang akan mati, setelah api vilakku itu taklagi abadi.

2 komen

24.1.15

Selara Lima Pantun

Sungguh harum padi seberang
Kilaunya emas bertangkai perak
Sudah kuhulur bergantang sayang
Namun secupak berbalas tidak.

Telah kusiram sebatas mawar
Harum bunganya sayang berduri
Tabah kutuai serelung sabar
Sesudah cinta menumbuh benci.

Beras kutampi beras berantah
Habis segenggam dimakan pipit
Puas kurayu puas beralah
Orang dah benci hatinya sempit.

Aku menempuh bukit ke bukit
Memburu enau tumbuh di lembah
Aku mengaduh sakit ke sakit
Merindu engkau jauh di entah.

Siapa menanam ciku sepohon
Sampai musim tidak berbuah
Saya mendendam rindu bertahun
Sampailah sayang hilang sudah...

1 komen

3.11.14

Telah Kutuliskan Serangkap Sajak Paling Mulus Di Malamku Paling Sepi

Ada suatu ketika tatkala malam merebakkan sepi
melewati nyala puntung puntung rokok dan kilat pekat buih bir barli
aku tiba tiba terasa ingin menuliskan sebuah sajak mulus
perihal cintanya itu yang selalu manis bersama sama rinduku ini yang takpernah habis

Namun, kesepian, bila tak menjemput ingatan ingatan yang buruk dari masa lampau yang lapuk - adalah pesuruh kebenaran yang tabah menghindar mimpi dan pura pura dalam puisi

Demikianlah ia dengan lembutnya mengingatkan aku;

"Mimpi lagi? Lupakah kau cintanya telah padam dan kini tinggal kabur kepulan asap? Bahkan rindumu itu pun taklebih sekadar pahit yang sering kauteguk dari botol botol kaca gelap?"

Mendengarkan itu pen pun longlai di jari, aku takmampu menipu sepiku sendiri
kuakui kebenaran memang tak selalu mulus, tapi ya, puisi yang pura pura jauh lebih menyuramkan

Tapi oleh kerana pengkhianatannya terlalu sakit untuk disajakkan dan duka dukaku pula terlalu perit untuk dikarang
maka akhirnya, di lewat malam yang sepi itu akupun memutuskan untuk tidak lagi mahu menuliskan apa apa

Dan di atas helaian kertas, yang tertinggal hanyalah serangkap basah air mata.

3 komen

2.11.14

Fading Fall

Akukah yang terabaikan langit?
Atau kitakah yang telah dipudarkan musim?
Sejak malam semakin panjang
Dan lena menjadi singkat
Engkau adalah pagi yang tak lagi hangat
Aku hanya ingin segera bangkit
Agar lekas gugur mimpi semalam.

3 komen