13.3.25

Percakapan Pagi - Pengantin Malam (xv)

Barangkali kerana senjanya yang selalu lelah di dalam jingga - 

di langitnya yang sering suram dan sunyi bintang taklagi mengandaikan dewa dewa tinggal samar segugusan cahaya dan bengkok bulan yang purba

Bahkan pungguk pun membongkok bisu -

sesekali melolong hiba bukan lagi bernada angker malah ia terdengar sedang berduka namun siapalah yang mau bertanya?

Mungkin juga desah angin dini yang mengirim kantuk tapi terkadang memuput resah antara jaga - 

cukup sepotongan doa tidur yang pendek dan sederhana menyisipkan manis kedalam mimpi dan lenamu sesekali tetap menjelma ngeri tapi kau taklagi peduli bahkan telah terbiasa

Mungkin juga kerana butir embunnya yang dingin dan takzim itu atau gerimis yang menderap jatuh di sebentar subuh -

serupa tetes tetes tangis yang pantas merebakkan hiba dari lapukan ingatan lama

...

Nah, kukira di segala apa jua citra telah tak ada lagi keraguan, tinggal bertahan dan saling percaya -

bahwa semuanya telah memang menyimpan sengsara

maka dengan bersaksikan kebenaran itu, kupilih Malam sebagai pengantinku-!


K. Damn

No comments: