Dingin malam yang menggetar ruh
setelah senja digenangi hujan
membaurkan lendir longkang yang hitam dan hamis
pada tepi sebuah toko serbaneka
di selapikan lusuhan kotak lama
ada neon bukan bulan
dan bintang gugur di matanya.
seorang tua itu mengerekot tidur
menyulam mimpi antara lena dan jaga
mimpi keruh wajah anaknya
(yang telah terpaling dari doa)
terkadang tinggal hanya nama tanpa figura
seiring hayat meluputkan ingat
dalam jijik dan nyanyuk kemelaratan usia.
Terdengar ratib rindu yang sama
di tiap terbit airmata tuanya
berkali dipinta agar dipasrahkan perbuangan itu
(oleh ketidakwajaran dan kurang ajar seorang anak)
demikianlah kukira tuhan tak mengabaikan
telah ada parut bekas luka syurga
di telapak kakinya yang renta.
No comments:
Post a Comment